“woy kalau bawa motor yang bener dong, jadi kotor gini kan baju gue,”
teriak Citra kesal karena bajunya terkena cipratan motor tersebut padahal dia
akan pergi ke taman namun dia terhenti karena hujan lebat menghadangnya.
Orang tersebut hanya menengok dan mendengarkan ocehan Citra tanpa
menghampiri dan meminta maaf padanya. Dengan tatapan sinis Citra melihat orang
tersebut, namun dia pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
Citra sosok wanita yang tak memandang penampilan, dia hanyalah orang
sederhana dan tak mau untuk mempermasalahkan penampilan padahal dia seorang
mahasiswa yang cantik dan manis. Banyak orang sebenarnya yang menyukainya namun
kejutekannya membuat para laki-laki memilih mundur sebelum perang. Makanya saat
ini dia masih jomblo, kalau saja dia agak feminim sedikit mungkin sudah
mempunyai tambatan hati.
Hujan belum juga reda, baju pun sudah kotor terkena cipratan motor
tadi. Tidak mungkin jika dia melanjutkan perjalanannya ke taman, dengan keadaan
tanggung dia menerjang hujan yang cukup membuatnya basah kunyup sampai ke
rumahnya.
“sial banget gue, udah tadi kejebak hujan eh baju kotor lagi kan
akhirnya nggak jadi ke taman,” gerutu Citra setelah membersihkan badannya dan
berbaring di tempat tidurnya.
Taman adalah tempat faforitnya sejak SMP, menurutnya taman itu tempat
penenang hatinya. Tempat itu baginya adalah sahabat sejati, tak ada yang tahu
lagi isi hatinya Citra selain taman tersebut karena dia selalu mencurahkan
segala keluh kesah dalam benaknya di taman.
Esok harinya Citra bergegas ke kampus, sebenernya dia bosan bila harus
pergi ke kampus karena dosenpun jarang masuk dan buat apa juga kalau tidak ada
dosen tapi karena tata tertiblah dia selalu rajin berangkat.
Sekarang dugaan Citra salah, dosen justru masuk membawa seseorang dan
memperkenalkannya.
“pagi semua, kali ini saya masuk hanya ingin mengantar mahasiswa baru pindahan
dari Jakarta,” ujar Pak. Udin.
“yaelah Pak, giliran masuk aja cuma nganter mahasiswa baru kapan mau
ngasih penjelasan ke kita Pak?” keluh salah satu mahasiswa sebut saja Doni.
“sudah diam kamu, yang penting kan saya memberi nilai buat kamu semua dan
saya juga sudah memberitahu materi apa yang harus dipelajari kan,” jawab Pak
Udin santai.
“kita kan nggak cuma butuh nilai Pak tapi kita butuh ilmu yang akan
mengantar kita ke jalan kesuksesan , kelak Pak,” argumen Doni.
“sudah kamu perkenalkan diri dulu, saya ada urusan,” ucap Pak. Udin
tidak menghiraukan argumen Doni.
Memang seorang siswa ataupun mahasiswa bukanlah hanya butuh nilai, kita
justru lebih butuh ilmu untuk bekal kita nantinya. Terkadang hasil tanpa proses
pun tidak membanggakan karena hal yang indah ketika kita mampu melewati proses
itu dengan baik.
“hai teman-teman semuanya, nama gue Andre pindahan dari salah satu
kampus di Jakarta. Gue pindah ke sini karena orang tua gue pindah dinas ke
sini, semoga kalian bisa bantu gue disini nantinya,” sapa Andre memperkenalkan
dirinya.
“ok,” jawab mahasiswa lain menerima kedatangan Andre dengan baik.
Andre adalah orang yang pernah bertemu dengan Citra tanpa sengaja, dia
yang telah membuat Citra kesal kemarin. Dia sebenernya baik namun jarang
diperlihatkan ke banyak orang jadi terkesan arogan juga. Banyak cewek yang
menyukainya karena dia berparas tampan, pinter, dan mempunyai tanggung jawab
yang cukup tinggi juga.
Sore hari tiba, ya semangat Citra pun cukup tinggi untuk mengunjungi
taman kesukaannya. Dengan gaya yang biasa mengikat rambutnya serta
berpenampilan yang jauh dari kata feminim dan dengan muka yang jarang
tersenyum.
Sayangnya Citra jika telah berada dalam taman kesukaannya itu senyuman
dia selalu terpancar. Entah karena apa namun hanya tempat itu yang mampu
membuatnya selalu bahagia.
Cuaca yang mendung membuat para capung beredar, ketertarikan untuk
menangkap capung ada pada diri Citra. Baginya itu sangat mengasikkan, hanya
dengan bekal tangan untuk menangkapnya itu tidaklah mudah. Berkali-kali dia
berusaha menangkap namun masih gagal hingga dia tak sadar bahwa tanah yang
berada di depannya sangatlah licin dan akhirnya dia hampir terjatuh namun masih
bisa di tahan oleh seseorang.
Pandangan mereka bertemu, saling menatap hingga tak sadar bahwa
seseorang itu adalah orang yang pernah membuatnya kesal.
ternyata ini loe yang asli? Cantik juga sih tapi sayang nggak ada
perempuannya, benak Andre.
“loe? Jangan cari kesempatan dalam kesempitan loe,” kaget Citra.
“eh sorry sorry tapi kan loe yang minta,” ucap Andre yang refleks
melepas pegangannya.
“tapi nggak gini juga kali,” sebal Citra dan berusaha bangkit.
“mau gue bantuin?” tanya Andre menawarkan bantuan kepada Citra.
“nggak usah, gue bisa sendiri,” jutek Citra menolak namun alhasil dia
masih belum bisa untuk berdiri.
“makanya jangan keras kepala loe, nggak bisa juga kan,” ujar Andre lalu
mengulurkan tangannya untuk membantu Citra namun karena memang tanahnya licin
justru Andre terbawa jatuh bersama Citra. Dia jatuh disamping Citra namun
pegangan mereka masih belum terlepas, tatapan mereka kembali bertemu karena
mereka refleks dengan hal tersebut.
“yee loe juga nggak bisa kan malah ikut-ikutan jatuh lagi,” sorak
Citra.
“itu sih karena berat badan loe tahu.”
“kok nyalahin gue sih, loenya aja sih.”
“nggak lihat nih baju kotor gara-gara loe kan?”
“woy nggak nyadar kemarin loe juga ngotorin baju gue, berarti impas
dong.”
“kok loe disini sih?”
“harusnya gue yang nanya kali, kenapa loe tiba-tiba ada disini?“
“yaelah loe tuh nggak kreatif banget sih, pertanyaan gue malah
ditanyain lagi sama loe.”
“hak-hak gue dong, udah deh jawab aja kenapa loe tiba-tiba ada disini?
Perasaan gue nggak pernah lihat loe.”
“berarti hak-hak gue dong untuk kesini atau nggak.”
“eh loe tuh malah ngikutin aja.”
“biarin, wle.”
“terserah loe lah, lagian gue yakin kalau loe bukan orang sini.”
“kenapa loe begitu yakin kalau gue bukan orang sini?”
“karena loe itu songong tahu nggak, nyebelin, bahkan sering bikin gue
sial.”
“itu sih derita loe, oh ya perlu loe tahu kalau loe tuh lebih songong
dari gue. Loe tuh cewek tapi nggak ada feminim-feminimnya di tambah loe tuh
nggak ada ramah-ramahnya jadi cewek, cantik juga nggak.”
“suka-suka gue dong, mau gue nggak ada feminim-feminimnya itu style gue
dan buat apa gue ramah sama orang yang nggak ramah kayak loe.”
“males gue debat sama cewek, entar ujung-ujungnya juga nangis.”
“apa loe bilang?”
“nangis, iya kan paling loe nanti nangis kalau udah selesai.”
“nangis? Eh jaga omongan loe yah, loe nggak kenal gue, loe nggak tahu
gue, loe nggak ngerti apa-apa tentang gue jadi nggak usah loe nilai-nilai orang
seenaknya aja!! Asal loe tahu aja nggak semua cewek itu cengeng dan nggak semua
cewek itu lemah.”
“lho kok loe jadi marah sih?”
“udahlah, gue capek berantem terus sama loe,” kesal Citra meninggalkan
Andre sendiri di taman.
Citra kembali ke rumahnya dan Andre merasa aneh dengan sikapnya karena
baru kali ini dia merasa kalau Citra memang benar-benar marah setelah mendengar
kata cengeng.
“kenapa tuh cewek jadi marah banget gitu yah setelah gue ngomong
cengeng? Ahh udahlah emang aneh tuh cewek,” gerutu Andre meninggalkan taman.
Andre berada di taman karena dia ingin mengenal kota yang sekarang di
tinggalinya yaitu Purwokerto. Kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah, dia
berusaha mengelilingi kota tersebut karena dia ingin mengenal beberapa tempat
di Purwokerto hingga menemukan taman yang cukup indah. Makanya dia mampir ingin
melihat pemandangan di dalamnya namun tidak sengaja dia justru bertemu dengan
Citra yang pernah dia tahu karena omelannya.
Suatu hari ujian untuk semester pertama tiba, mau nggak mau Citra harus
masuk kelas untuk mengikutinya. Padahal selama ini paling dia cuma masuk pergi
tapi kali ini dia harus bertahan sampai selesai.
Dia datang paling akhir dari teman-temannya walaupun belum dimulai
ujiannya. 10 menit kemudian mereka memulai mengerjakan ujiannya, dan tepat 2
jam mereka menyelesaikan serta harus menyerahkannya kepada pengawas.
Para mahasiswa segera meninggalkan ruangan, begitupun Citra. Dia sangat
semangat meninggalkan ruangan tersebut berusaha segera menuju taman namun
rencana itu terhalang karena tubuhnya tidak bisa keluar dari pintu kelas.
Tubuh Citra tersangkut di pintu karena ada satu orang lagi yang
mempunyai niat untuk keluar dari kelas. Satu pintu hanya muat untuk satu orang
namun tak disangka dua orang bersamaan menuju pintu dan akhirnya nyangkut tidak
bisa keluar.
“ahh kenapa sih loe lagi?!” kesal Citra harus bersangkutan lagi dengan
Andre apalagi mereka menyatu di pintu. Itu adalah hal yang menyebalkan bagi
Citra begitupun Andre.
“lha kenapa loe disini? Pake acara nyangkut bareng loe lagi di pintu
kan nggak lucu!” ujar Andre terkejut.
“harusnya gue yang nanya kenapa loe bisa di kelas ini?”
“masih aja nggak kreatif loe, pertanyaan gue di embat juga sama loe,
ini tuh kelas gue tahu!”
“hah? Kelas loe? Jangan ngaco loe, jelas-jelas ini kelas gue dan gue
nggak pernah tuh kenal sama cowok kayak loe.”
“emang gue tahu kalau loe disini, kalau gue tahu nggak akan gue mau
pindah kesini apalagi satu kelas sama loe.”
“sejak kapan sih loe bisa disini?”
“mending loe pikirin dulu deh gimana caranya kita keluar darimana loe
marah-marah nggak jelas terus, capek tahu di pintu kayak gini.”
“semua ini gara-gara ada loe tahu nggak, hidup gue selalu kayak gini!”
“loe tuh nggak bisa diem yah?” kesal Andre semakin kesal hingga
membungkam mulut Citra.
“mending sekarang loe dengerin gue, coba kita miringin badan kita dulu baru keluar satu-satu kali
aja bisa,” lanjut Andre.
“mana bisa? Ini juga udah nggak bisa banyak gerak.”
“yaudah sih coba aja dulu, kalau nggak nyoba mana bisa tahu.”
Dan akhirnya Citra mengalah untuk kali ini, dengan perlahan mereka
mulai memiringkan badannya. Kerja sama yang bagus mereka akhirnya bisa keluar
dari sangkutan pintu tersebut. Namun percecokan mereka berlanjut diluar kelas.
“untung aja bisa keluar, males banget kalau harus lama-lama sama loe di
pintu,” gerutu Citra.
“gue juga ogah kali, harusnya berterimakasih tuh sama gue. Ini kan
berkat ide gue nggak kayak loe yang cuma bisa marah-marah aja,” ucap Andre.
“lupakan kejadian tadi, gue mau lanjut tadi. Sejak kapan loe disini?”
“beberapa minggu yang lalu gue pindah kesini tapi kok gue juga nggak
pernah lihat loe sih?”
“bukan urusan loe,” jawab Citra singkat lalu meninggalkan Andre.
“kebiasaan banget sih loe ninggalin gue, padahal kan loe belum jawab
pertanyaan gue,” teriak Andre melihat Citra yang semakin hilang dari
pandangannya.
Memang pantas Citra dan Andre terkejut bisa bertemu dikampus, mereka
belum mengetahui bahwa mereka satu kampus bahkan satu kelas. Saat Andre
memperkenalkan dirinya..
Flash back.
Sebelum bel masuk berbunyi, Citra sudah tak berniat masuk kelas karena
dia sangat paham akan dosennya yang tak pernah masuk hingga dia terduduk di
sebuah taman kampus. Namun dugaannya salah, kali ini dosennya yang bernama Pak.
Udin memasuki kelas membawa mahasiswa baru.
“pagi semua, kali ini saya masuk hanya ingin mengantar mahasiswa baru
pindahan dari Jakarta,” ujar Pak. Udin.
“yaelah Pak, giliran masuk aja cuma nganter mahasiswa baru kapan mau
ngasih penjelasan ke kita Pak?” keluh salah satu mahasiswa sebut saja Doni.
“sudah diam kamu, yang penting kan saya memberi nilai buat kamu semua
dan saya juga sudah memberitahu materi apa yang harus dipelajari kan,” jawab
Pak Udin santai.
“kita kan nggak cuma butuh nilai Pak tapi kita butuh ilmu yang akan
mengantar kita ke jalan kesuksesan , kelak Pak,” argumen Doni.
“sudah kamu perkenalkan diri dulu, saya ada urusan,” ucap Pak. Udin
tidak menghiraukan argumen Doni.
Memang seorang siswa ataupun mahasiswa bukanlah hanya butuh nilai, kita
justru lebih butuh ilmu untuk bekal kita nantinya. Terkadang hasil tanpa proses
pun tidak membanggakan karena hal yang indah ketika kita mampu melewati proses
itu dengan baik.
“hai teman-teman semuanya, nama gue Andre pindahan dari salah satu
kampus di Jakarta. Gue pindah ke sini karena orang tua gue pindah dinas ke
sini, semoga kalian bisa bantu gue disini nantinya,” sapa Andre memperkenalkan
dirinya.
“ok,” jawab mahasiswa lain menerima kedatangan Andre dengan baik.
Citra larut di sebuah taman kampus yang memiliki suasana tenang, hanya
disini Citra menghabiskan waktunya bukan di kelas. Tidak sering dia memasuki
kelas itu juga hanya beberapa menit saja.
Dia lebih memilih belajar di taman daripada harus mendengar kicauan
para mahasiswa untuk bergosip ataupun bermain. Karena jika tidak memiliki niat
untuk belajar mandiri, mahasiswa tak akan bisa melakukan tugas maupun ujian
kampus karena jarang ada dosen yang mau menjelaskan materinya.
Kadang kebebasan mahasiswa itu justru salah digunakan, mereka bukanlah
sibuk mencari buku ataupun belajar mandiri bahkan diskusi. Mereka lebih banyak
membuangkan waktunya dengan sia-sia, bisa saja mereka tidak pernah belajar
hingga pada akhirnya kuliah mereka itu cuma-cuma. Mereka terlarut dalam
kebebasan dan tak menerima pembelajaran sehingga mereka isi dengan kesenangan
mereka yang mengakibatkan tingkat kemalasan semakin tinggi.
Hari demi hari berikutnya pun selalu dilakukan sama oleh Citra,
sementara Andre mungkin lebih memilih bermain basket untuk mengisi waktu
luangnya.
Saat Andre masuk ke kelas, Citra baru saja keluar dari kelas. Saat
Citra masuk kelas untuk menaruh tasnya justru Andre sudah di tunggu untuk
bermain basket oleh teman-temannya.
Come back.
Dan barusan hingga mereka ada dalam satu kelas yang sama, mereka
sama-sama nggak sadar dan mengetahui karena apa? Karena saat Citra datang dia
langsung duduk di depan karena dia tidak suka menduduki bangku paling belakang.
Sedangkan Andre berada di bangku yang paling belakang ditambah lagi dia sedang
membaca sms dari seseorang.
Itulah alasannya mereka tidak pernah tahu bahwa mereka satu kelas,
wajar jika mereka terkejut bahkan kesal karena setiap bertemu tak ada kata
damai dari mereka. Pertikaianlah yang muncul diantara mereka, entah sampai
kapan semua itu terjadi.
Walaupun kini mereka telah mengetahui satu kelas namun sampai selesai
ujian mereka masih belum berkenalan. Setiap ada pertemuan hanyalah tatapan
sinis, berargumen sesuai dengan hati mereka maka selalu berujung dengan
kekesalan.
Suatu malam yang berbeda untuk Citra, dia masih menetap di kampusnya.
Kenapa? Karena dia mempunyai tugas
kelompok dengan mahasiswa lain dan harus selesai hari itu juga. Walaupun memang
dia kurang suka dengan kumpul-kumpul namun demi kuliah dia mengurungkan egonya.
Setelah selesai, secepat mungkin Citra untuk pulang namun hujan tak
bisa di tebak kapan turunnya dan kini menghadang Citra di sebuah halte kampus
padahal tidak ada orang lagi disana. Namun jika menerjang hujan anginnya
terlalu besar, ketakutannya akan bencana datang dalam hati Citra.
“ya allah berilah aku keberanian untuk melawan rasa takut ini,” doa
Citra sambil menunggu hujan reda.
Terduduk sendiri, 30 menit telah berlalu Citra masih setia di halte
kampus. Terdengar suara motor dan terlihat sorotan lampu dari motor tersebut
namun tak dihiraukan oleh Citra, melihat setiap tetesan air hujan itu cukup
membuatnya tenang karena sudah tak begitu kencang anginnya.
“lho kok loe masih disini?” tanya seseorang tersebut.
“Andre? Lagi-lagi loe,” ucap Citra yang tak menyangka bahwa Andre
datang.
“iya ini gue, gue lagi nggak mau berantem nih sama loe. Gue nanya
kenapa loe masih disini sih udah malem tahu?” tanya Andre agak khawatir.
“ya gue tahu ini udah malem tapi gue belum bisa pulang.”
“lho kenapa?”
“nggak lihat ini kan masih hujan nggak mungkin gue terjang apalagi tadi
ada angin gede.”
“ya udah yuk, pulang sama gue.”
“nggak usahlah paling bentar lagi reda, gue pulang sendiri aja.”
“hujan kayak gini tuh nggak akan reda paling besok pagi, mau loe pulang
pagi?”
“ya nggaklah, enak aja pulang pagi.”
“makanya ayo pulang, gue anterin kok.”
“tapi kan masih hujan gede.”
“loe pakai jas hujan gue aja, nih,” tawar Andre sambil memberikan jas
hujan yang tadinya dipakai.
“terus kalau gue pakai jas hujan loe, loe pakai apa dong?”
“udah loe nggak usah mikirin gue, ayo cepetan pakai terus naik.”
“loe beneran? Tapi nanti loe sakit lagi gara-gara hujan-hujanan.
Udahlah gue nunggu bentar lagi, sana loe pulang aja. Gue nggak apa-apa kok.”
“masih aja loe keras kepala dalam keadaan kayak gini, ini tuh udah
malem banget. Ayo cepet naik.”
“iya iya.”
Akhirnya Citra mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Andre dan dengan
cepat Andre membawa Citra ke rumahnya. Keadaan Andre pastilah basah kuyup
karena hanya bermodal jaket kain.
“gue balik ya,” ucap Andre.
“loe yakin? Tapi kan loe basah kuyup kayak gini,” tanya Citra mulai
khawatir.
“iya gue yakin kok lagian kebetulan rumah gue nggak jauh dari sini, ya
udah sana loe masuk.”
“makasih ya udah mau nganterin gue,” kata Citra yang akan melepas jas
hujannya.
“eh nggak usah bawa masuk aja, nanti loe kehujanan lagi.”
“tapi kan gue udah deket, loe tuh yang udah kedinginan mending pakai
jas hujan.”
“udah dipakai loe aja, percuma dong kalau ujung-ujungnya loe basah juga
mending gue yang udah terlanjur basah kayak gini.”
“gue jadi nggak enak sama loe nih.”
“nyantai aja lagi, ya udah gue balik ya.”
“iya sekali lagi makasih, hati-hati dijalan.”
Baru kali ini senyuman Andre terlontar untuk Citra begitupun
sebaliknya. Mungkin ketika keadaan yang memaksa baru seseorang berani untuk
menunjukan dirinya sesungguhnya. Itulah yang dilakukan Andre, dia tidak tega
jika harus melihat seorang wanita masih berada di luar sendirian dalam keadaan
hujan. Walaupun mereka sering berargumen namun bagaimanapun mereka telah
dipertemukan sebagai teman kuliah.
“nggak nyangka gue kalau Andre ternyata baik juga bahkan dia rela
kehujanan demi gue,” ucap Citra setelah membersihkan badan.
Pagi hari di kampus kali ini akan beda dari hari-hari sebelumnya. Citra
dan Andre terlihat tengah duduk berdua di taman kampus.
“thanks ya, semalem udah rela ujan-ujanan karena gue,” ujar Citra
mengawali pembicaraan.
“PD gila loe, gue cuma ngelakuin hal yang emang seharusnya gue lakuin
kok,” saut Andre.
“ya udah sih biasa aja, lagian gue cuma mau bilang makasih aja,” kata
Citra.
“iyadeh sama-sama, oh iya kenapa loe bisa pulang malem-malem?” tanya
Andre.
“gue tadi malem ada urusan.”
“urusan apa? Emang harus banget apa nyampai malem gitu?”
“iya, gue harus selesaiin hari itu juga karena itu tugas kelompok so
gue harus ngerjain bareng di kampus.”
“oh gitu, eh selama ini gue belum tahu nama loe. Kenalin gue Andre.”
“perlu banget yah kenalan?”
“sombong banget loe, kalau bukan karena kita sekelas juga nggak mau gue
kenalan sama loe.”
“haha bercanda kali, udah naik aja sih tensinya.”
“abisnya loe tuh songong tahu nggak jadi cewek, pantes nggak ada cowok
yang deketin loe.”
“biarin, gue Citra.”
Perang dunia telah selesai diantara mereka, walaupun belum akrab namun
setidaknya saling mengetahui nama. Masa iya sih satu kelas nggak tahu namanya
itu kan aneh bin ajaib.
Kini mereka berteman namun masih ada style mereka yaitu pasti ada cek
cok kalau suka cerita tapi membuat mereka bisa tersenyum.
Suatu hari, kembali pada taman kesukaannya. Citra mengunjungi taman
tersebut namun ada hal yang berbeda yang biasanya diiringi kebahagiaan namun
sekarang justru berbanding terbalik. Dia terbayang sesuatu yang cukup
menitikkan air matanya.
“gue kangen loe tapi mungkin loe bukan terbaik dari yang baik,” lirih
Citra.
“inget waktu loe bilang, nangis? Eh jaga omongan loe yah, loe nggak
kenal gue, loe nggak tahu gue, loe nggak ngerti apa-apa tentang gue jadi nggak
usah loe nilai-nilai orang seenaknya aja!! Asal loe tahu aja nggak semua cewek
itu cengeng dan nggak semua cewek itu lemah, tapi kenapa sekarang loe justru
nangis?” tanya Andre.
“kok loe inget sih?”
“itu nggak usah dipikirin, jawab pertanyaan gue.”
“apa harus gue jawab pertanyaan loe?”
“harus!”
“loe pengin tahu kenapa gue ngomong kayak gitu? Bukan karena gue nggak
pernah nangis tapi gue nggak pernah ingin nangis lagi karena gue udah terlalu
capek buat nangis.”
“maksud loe?”
“dulu gue sempet punya sahabat, tapi kita udah salah jalan. Kita terjun
dalam jurang yang sama.”
“gue makin nggak mudeng maksud loe apa.”
“gue sama sahabat gue terjebak dalam percintaan, kita mencintai satu
cowok yang sama. Semua itu membutakan buat kita, padahal gue sama dia udah
sahabatan lama tapi nyatanya kita bertengkar cuma gara-gara satu cowok. Dia
mutusin persahabatan kita begitu aja, loe tahu apa yang gue rasain? itu
bener-bener sakit, nggak nyangka seorang sahabat akan ngelakuin hal kayak gitu
demi satu cowok. Saat itu dunia gue hancur, gue yang dulu feminim, ramah, ceria
tapi sekarang gue nggak ingin buat ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi karena gue
udah nggak mau lagi ngerasain hal yang sama. Dan cuma taman ini teman sejati
gue, taman ini yang mampu buat gue senyum lagi, taman ini buat gue nyadar kalau
hidup gue nggak akan berhenti sampai disini, masih ada banyak hal yang harus
gue lakuin bukan terpuruk karena satu keadaan makanya gue lebih milih sendiri,”
jelas Citra kepada Andre namun tak terasa air matanya sudah mengalir.
“sabar ya Cit, gue nggak nyangka cewek yang kelihatan kuat kayak loe
ternyata punya masa lalu yang begitu berat. Di tinggal sahabat yang udah lama
karena seorang cowok, tapi gue yakin loe akan nemuin sahabat yang lebih baik
lagi,” kata Andre menenangkan Citra dan membiarkan kepala Citra bersandar di
bahunya.
“loe boleh kok anggep gue sahabat loe, gue janji kalau gue nggak akan
buat loe sedih, gue akan berusaha buat loe seneng terus,” lanjut Andre.
“makasih ya selama ini loe udah baik banget sama gue. Mungkin dengan
adanya loe, gue jauh lebih baik.”
Sekarang Citra telah menemukan seseorang yang membuatnya nyaman karena
kesendiriannya selalu membuatnya kesepian walaupun tak pernah terlihat. Masa
lalu yang nggak pernah terpikirkan oleh Andre, seseorang begitu keras karena
suatu kejadiannya membuatnya sakit yang amat dalam sehingga bisa dibilang air
matanya telah habis. Namun dia salut karena sosok Citra benar-benar kuat hingga
mampu membuat orang lain sangat tak menduga dengan apa yang sebenarnya dia
rasakan.
Memang benar dengan apa yang dibilang seseorang bahwa kita tidak boleh
hanya memandang dari covernya saja. Begitulah manusia yang tak bisa mengerti
isi hati orang lain ketika dia belum mengenalnya, bahkan saat mengenalnya pun
belum tentu mampu mengerti keadaannya. Namun ketika mencoba untuk mengerti
seseorang itu lebih baik seperti halnya Andre yang akan mencoba untuk mengerti
seorang Citra yang selama ini keras.
Dan sahabat itu sangatlah berpengaruh dalam hidup kita. Sedih, senang
itu banyak dikarenakan karena sahabat. Namun begitu hancurnya dunia kita ketika
sahabat kita yang selama ini kita sayangi menjauh bahkan meninggalkan kita demi
seorang cowok.
Jagalah persahabatan kita dengan baik, yakinlah bahwa sahabat lebih
baik dari seorang yang belum mengenal kita. Siapa yang mau dengerin cerita kita
yang begitu panjang? Siapa yang akan menerima kita dengan kekurangan kita?
Siapa yang sangat berpengaruh dalam hari-hari kita? itu semua sahabat yang siap
dengan apa adanya kita. Rangkulah sahabat kita sebelum terlepas karena
percintaan.
The End
Pengarang Cerita : Tri Wahyuni
Tanggal Pembuatan : 27 Desember 2014
Tanggal Pembuatan : 27 Desember 2014
