Senin, 09 Maret 2015

Mengenal Dengan Sederhana (Bagian 1)


Hay, perkenalkan nama aku Sintya Rahma biasa di panggil Tya. Aku anak ke dua dari dua bersaudara, aku sangat dekat dengan kakak satu-satunya yang aku punya. Dia mempunyai nama lengkap Muhammad Fino Aditya biasa ku panggil Kak Fino, dia menjadi mahasiswa teladan di kampusnya mengambil jurusan sastra Indonesia. Aku pun banyak belajar tentang hobby ku. Aku sekolah di salah satu sekolah cukup terkenal di Jakarta. Aku mempunyai cita-cita yang bisa di bilang tinggi dan kemungkinan untuk mencapainya pun sedikit tapi aku yakin dengan niat dan tekadku ini bahwa aku pasti bisa untuk mencapainya yaitu aku ingin menjadi seorang penulis.
Aku mempunyai seorang teman dari aku kelas 10 dan sekarang aku menduduki kelas 12 masih bersama teman ku yang bernama Dewi Larasati. Aku sering memanggilnya Laras karena suka aja sama nama Laras. Aku dan dia bisa di bilang sangat dekat karna aku tau dia dan diapun tau aku.
Oh iya aku juga punya seseorang yang di kagumi lho. Dia adalah cowo yang super duper perfect buatku. Aku menyukainya sejak kelas 11 lalu saat aku tau dia pemain gitar. Aku memang suka sama cowo yang jago main gitar tapi bukan itu alasanku yang utama. Alasan ku saat melihat jejak setengah lingkaran di bibirnya dan pancaran matanya yang terlihat begitu damai.
“kamu menjadi orang yang pertama di dalam hatiku saat ini dan aku harap sampai nanti walaupun kamu tak pernah mengenalku,” bayangku.
Hingga aku tersadar akan bayanganku yang semu itu. Aku menceritakan dia di dalam karya tulis ku ini, akan ku jadikan rangkaian ceritaku bersamanya. Dengan sebuah judul yang cukup sederhana untuk ceritaku ini Mengenal Dengan Sederhana, walaupun belum pernah berkenalan namun setidaknya aku tau dia dan cukup mengenal dari jauh.
Ku pejamkan mata ini untuk mengakhiri aktivitasku hari ini setelah selesai mengerjakan tugas sekolah dan rutinitas goresan catatanku. Dan ku terbangun dengan kicauan burung yang indah serta kabut yang membuat badanku dingin.
Ku mulai hari ini dengan senyuman yang indah dan rutinitas biasa menjadi seorang siswa. Aku duduk di sebuah kursi tempat dimana keluargaku biasa sarapan pagi.
“pagi Mamah, pagi Papah,” sapaku.
“pagi juga sayang,”jawab Papahku.
“pagi sayang, sarapan dulu yak,” tawar Mamah.
“iya Mamah, pasti dong,” sautku.
“oh jadi gini, nggak nyapa sama sekali nih,” gerutu Kak Fino.
“eh iya lupa kak,” ucapku.
“oh lupa nih ceritanya,” ngambeknya.
“iya deh maaf Kakak ku yang paling ganteng,” rayuku.
“nah gitu kek,”senang Kak Fino setelah mendengar ucapanku.
“udah makan kalian, mau berangkat bareng Papah apa enggak?” tawar papah.
Kami pun menyantap sarapan pagi ini dengan senang hati bersama keluarga yang membuat pagi ini menjadi berwarna.
“iya Pah, ini mau makan. Aku ikut Kak Fino aja deh,” jawabku sambil memakan roti.
“iya Pah, biar Tya sama Fino aja nanti berangkatnya,” kata Kak Fino.
Papahku pegawai di salah satu perusahaan di Jakarta. Beliau termasuk sosok Papah yang baik hati dan penyayang terhadap keluarganya. Mamahku pun begitu, walaupun hanya sebagai ibu rumah tangga namun beliau adalah sosok yang di banggakan untuk keluargaku. Bagaimana tidak, beliau orangnya sangat sabar dan apapun pekerjaan rumah beliau lakukan dengan baik. Betapa senangnya aku memiliki keluarga yang utuh dengan anggota keluarga yang sangat menyenangkan.
“Papah ke kantor dulu yak sayang,” pamitnya sambil mencium keningku.
“hati-hati Pah,” jawabku dan kak fino  dengan mencium tangan papah bergantian.
“Mamah antar Papah ke depan dulu yak sayang, kalian lanjutkan sarapannya,” kata Mamah.
“siap Mah,” ucap ku dan Kak Fino kompak.
Setelah Papahku berangkat tinggalah aku dan Kak Fino untuk memulai kegiatan masing-masing.
“Mah, aku dan Kak Fino berangkat dulu yah, Mamah hati-hati di rumah,” pamitku bersama Kak Fino sambil mencium tangan Mamah.
“iya sayang, kalian juga hati-hati di jalan, dan untuk kamu Fino jangan ngebut-ngebut bawa motornya dan jaga Adikmu,” pesan Mamah ke Kak Fino.
“siap Mah, tenang aja aku akan jaga Tya kok,” katanya.
“assalamu’alaikum,” pamit kami lalu Kak Fino menyalakan motornya diikuti aku yang menaiki bagian belakang motornya.
Aku dan Kak Fino sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah ku yang biasa di kenal SMA NEGERI 33 JAKARTA, disana aku mengambil jurusan IPS. Aku pun sampai di gerbang sekolah dan kebetulan bersamaan dengan Laras.
“hai Ras, barengan yak masuk nya,” pintaku.
“ok siap, halo Kak Fino,” sapanya terhadap Kak Fino yang berada di depannya dan masih dekat dengan ku juga.
“hai juga Ras, iya udah aku ke kampus dulu yak Tya dan Laras. Pintar-pintar di sekolah,” pamitnya serta sedikit berpesan terhadapku dan Laras.
“siap Kak,” ucapku dan Laras dengan semangat.
Kak Fino melanjutkan perjalanannya menuju kampus untuk melakukan aktivitasnya. Sedangkan aku dan Laras masuk ke dalam sekolah dan pastinya untuk ke dalam kelas IPS 3.
Sebelum aku sampai di kelas, ku lihat sosok yang selama ini aku sukai masih dalam keadaan jauh dariku namun aku pun tetap bersyukur masih bisa melihat dia.
“hayooo lagi liat siapa tuh,” ledek Laras.
“hah? Enggak kok,” tangkasku mendengar ucapan Laras.
“masa sih? Udah juju raja kali lagian aku juga tahu kamu lagi liatin Vendi kan?” tebak Laras seakan benar-benar tahu aku sedang melihatnya, melihatnya dari jauh.
“hehe iya deh, pasti kamu tahu juga,” kataku.
“kenapa nggak mencoba kenalan aja?” tanyanya.
“masih belum berani Ras, lagian mungkin belum saatnya.”
“terus kapan? Kita itu sudah kelas 12 dan sebentar lagi mau lulus.”
“aku tahu itu Ras, tapi ketika Tuhan pun tak menghendaki itu tak akan mungkin terjadi dan ketika Tuhan sudah menghendaki pasti semua itu akan terjadi.”
“Tuhan sudah memberi kesempatan untuk manusia agar bisa berkenalan, tinggal dari kita aja yang mau atau enggak nya.”
“aku akan mencoba nanti saat semuanya selesai.”
“selesai apa?”
“selesai untuk menggapai semua mimpiku.”
“tapi kalau nantinya dia sudah milik orang lain?”
“aku tak masalah Ras, ketika hati ini sudah memilih pasti akan ada resiko yang harus di terima. Bukan untuk mengharuskan bersama dia namun cukup mengenal dia pun sudah membuatku senang apalagi bisa melihat jejak setengah lingkaran itu.”
“jejak setengah lingkaran?”
“maksud ku itu senyumannya dia.”
“ooh, ya udah asal jangan pernah terlalu sakit hati aja nanti ketika kamu melihat dia bersama orang lain.”
“aku rela jika itu nanti terjadi dan aku pun akan berusaha kuat menjalani semua itu.”
Aku mencoba memegang kata-kata itu sampai kapan pun karena bagiku ucapan itu tak pernah bisa untuk di permainkan. Tak terasa bel berbunyi saat masih berbincang dengan Laras. Ku hentikan pembicaraan itu dengan Laras. Dan ku lanjutkan kakiku menuju ke kelas bersama Laras. Kebetulan di situ sudah ada Vendi yang sedang mempersiapkan bukunya.
Vendi termasuk anak yang pandai di dalam kelasnya, aku pun tak ingin kalah saing dengan nya. Dia pun anaknya sholeh, walaupun parasnya yang tampan namun dia sangat peduli terhadap temannya yang terkadang terlihat cuek.
Ku duduk di belakang persis punggung vendi. Sikapku biasa saja namun hatiku yang tak biasa. Ku biasakan diri untuk berada di dekatnya karena baru kali ini aku bisa satu kelas dengannya.
“ciyee Tya,” ledek Laras yang seakan bisa membaca pikiranku.
Aku hanya bisa membalas dengan senyuman saja, karena akupun masih bingung dengan perasaan ku yang sulit untuk di kendalikan.
Seorang guru memasuki kelasku, guru B.Indonesia yang cukup menyenangkan dan memberi motivasiku buatku untuk menulis.
Sekian lama untuk menerangkan materi awal kelas 12 yaitu karya sastra. Sebuah pelajaran yang bisa membuatku mengerti lagi cara kepenulisan.
“ok anak-anak materinya mungkin cukup sampai disini dulu dan Ibu beri kalian tugas kelompok untuk membuat sebuah karya sendiri entah itu puisi, cerpen, novel ,dll” terangnya.
“maaf Bu, tapi itu untuk satu kelompok satu karya?” tanya seorang siswa.
“iya itu satu kelompok satu karya , ini masih ada waktu setengah jam untuk berpikir karya apa yang akan kalian buat dan Ibu harap selesai sampai minggu depan karena langsung di presentasikan di depan,” jelasnya.
“kelompoknya di bagi bagaimana Bu?”tanyaku.
“dua meja jadi satu saja, meja yang di depan balik ke belakang,” jawabnya.
Hati ku semakin tak karuan dan tak menyangka terhadap kenyataan yang sudah di depan mata. Belum selesai mengatur parasaanku sendiri di tambah lagi Vendi menghadap tapt di depan ku. Laras hanya melihat reaksi ku ketika sangat-sangat dekat dengan Vendi.
“mau buat karya apa untuk kelompok kita,” ucap Vendi memecahkan pikiran ku.
“aku bingung nih, mikir dulu deh,” kata Laras masih bingung.
“aku si maunya kita buat yang beda dari yang lainnya,” pendapat Ando teman Vendi.
“aku juga maunya kayak gitu do,” ujar Vendi.
“oh iya, kamu kan bisa buat puisi Tya?” tanya Laras.
“bisa sih, tapi cuma sediki-sedikit terus juga biasa-biasa aja,” jawab ku.
“nah pas banget tuh, kan Vendi juga jago main gitar,” kata Ando mengagetkan aku dan yang lainnya.
“kan udah ada Tya yang bikin puisi?” tanyanya.
“kan kita mau bikin yang beda dari yang lainnya, nah kita gabungin aja puisi sama lagu,” jelas Ando.
“bagus juga tuh,” dukung Laras.
“mending kamu aja deh,” ucap ku terhadap Vendi.
“kok aku sih?”tanyanya.
“kan kamu udah jago main gitarnya dan mungkin kamu juga jago bikin puisi atau karya lain gitu,” jawabku.
“aku bisa main gitar tapi aku nggak bisa untuk bikin puisi dan yang lainnya, lebih baik kamu yang bikin puisi deh,”sangkalnya dan malah menyuruh ku untuk membuat puisi.
“tapi puisi ku hanyalah puisi yang sangat biasa dan nggak ada yang special bahkan jauh dari kata bagus,” ucapku.
“tapi kan itu menurut kamu, bukan menurut kita,” kata Vendi .
“bener tuh, kamu udah bagus kok bikin puisinya,” ucap Laras yang sudah mengetahui beberapa puisi ku.
“udah mending kalian bikin bareng-bareng aja,” lerai Ando.
“maksudnya?” tanyaku bingung.
“kamu kan pinter bikin puisi terus nanti Vendi bikin kunci gitarnya biar penampilannya keren, kan semuanya butuh persiapan,” jelasnya.
“terus kamu sama Laras ngapain?” tanyaku.
“iya bener tuh masak cuma kita yang kerja,”lanjut Vendi.
“gitu amat sama temen,” ujar Laras.
“tenang masih ada moderator dan nanti kita akan sama-sama mempresentasikan karya kalian,”kata Ando yang terlihat sangat menyusun tugasnya dengan rapi.
“insyaallah aku akan bikin, tapi maaf kalau hasilnya kurang bagus,” ucapku ragu.
“jangan ragu gitu dong, pasti bisa kok nanti aku bantu deh,” kata Vendi meyakinkanku.
Serasa ingin teriak di dalam kelas mendengar semua itu, sungguh sebuah kesempatan yang tak pernah ku sangka. Bisa sedekat ini dan mulai akrab dengan sosok yang ku sayangi selama ini.
Bel istirahat pun berbunyi, memecahkan keheningan yang ada di ruang kelas ku. Mereka segera mengakhiri aktivitas berpikir mereka, karena yang terpenting saat ini adalah pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Namun tidak dengan kelompok ku yang masih dengan posisi seperti tadi.
“ok ya semuanya,” jelas Ando seperti guru dalam kelompok ku. Walaupun dia cowok tapi dia sangat bertanggung jawab dan rela menyusun sebuah persiapan yang matang.
“bismillah, semoga kita semua bisa,” ucapku berharap.
“amin, oh iya tukeran no hp dong semuany,” pinta Vendi.
“untuk apa?” tanyaku.
“ya untuk mengkomunikasikan ini lha,” jawabnya.
“no aku udah punya kan Ven?” tanya Ando.
“oh iya, udah kok,” jawabnya.
“nih no ku dan Laras,” ucapku memberikan sebuah kertas kecil yang tertulis no HP aku dan Laras.
“ok,” ujarnya menutup diskusi kelompok ku saat itu.
Ku langkahkan kakiku untuk pergi menuju mushola melakukan sholat Dhuha bersama Laras. Namun ada seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang.
“mau ke mushola ya?” tanya Vendi mengagetkan ku.
“eh iya kenapa?” jawabku.
“enggak apa-apa, boleh bareng?” tanyanya lagi.
“silahkan aja, kan umum,” ujarku.
Aku sudah dapat mengendalikan perasaanku saat ini. Memang harus bisa ku kendalikan karena aka nada banyak waktu bersamanya karena tugas kelompok itu. Senang bisa di beri kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.
Ku jalankan ibadah sholat dhuha itu bersama yang lain dengan di imami oleh seorang Vendi. Memikirkan untuk seseorang yang bisa memiliki Vendi begitu senangnya dan bangga. Tapi aku pun tak berharap lebih justru aku akan berusaha menghilangkan perasaan yang berlebihan. Tidak untuk aku melupakan nya tapi membiarkan dia bahagia dengan orang yang di cintainya nanti.
Setelah selesai dan keluar dari mushola sekolah. Aku masih bersama Laras di ikuti oleh Vendi dan Ando.
“ciyee yang lagi seneng banget nih hari ini,” ledek Laras terhadapku mulai beraksi.
“seneng bisa bareng kamu,” ucapku.
“masa sih? Bukannya karna udah bisa deket sama dia ya?” tanyanya.
“udah deh nggak usah mulai, ada orang di belakang kita,” jawabku.
“hehe, iya juga si. Semoga sukses ya nanti tugasnya,” katanya.
Aku hanya membalas dengan senyuman saja, namun Tya malah mengajak Ando untuk pergi membeli makanan selagi masih ada waktu untuk istirahat.
“do, ke kantin yuk beli jajan,” ajak Laras.
“kebetulan juga aku laper nih,” kata Ando menerima ajakannya.
“ada yang mau nitip nggak nih?” tawar Laras.
“aku minum aja deh,”jawab Vendi.
“aku masih kenyang,”jawabku.
“ya udah aku pergi dulu yah,”pamit Ando.
Ando dan Laras pun meninggalkan ku bersama Vendi. Vendi menjajarkan tubuhnya dengan ku. Bersampingan aku dan dia menuju kelas sambil berbincang-bincang.
“kira-kira judul yang cocok untuk tugas kita nanti apa yah?”tanyaku.
“udah mikirnya nanti aja, nanti kita bikin bareng-bareng aja biar agak lebih mudah aja,” jawabnya.
“aku kira kamu anaknya cuek banget,” ucapku datar.
“emang gitu banget yah?”
“ya kelihatannya aja si tapi setelah aku kenal kamu, biasa-biasa aja sih.”
“mungkin bawaanku aja, memang aku enggak terlalu suka untuk bergaul dan lebih suka untuk diam.”
“maaf ya jadi nanya-nanya kayak gini.”
“enggak apa-apa kok, justru aku pun senang bisa punya temen baru lagi setelah sekian lama.”
“lebih terbuka aja sama yang lain dan tebarkan senyuman juga pasti akan banyak teman yang menghampiri.”
“aku enggak terlalu senang untuk tersenyum, mungkin untuk event-event tertentu aja.”
“tapi kan setiap senyuman akan ada kebahagiaan tersendiri untuk kita sendiri bahkan untuk orang lain.”
“apa mungkin itu berlaku untuk aku?”
“itu berlaku untuk semua orang, mungkin senyuman mu itu banyak di tunggu oleh orang-orang.”
“kenapa?”
“karna kamu kan termasuk anak yang terkenal di sekolah ini.”
“itu nggak berpengaruh terhadap ku, aku hanya ingin mengasah hobby ku aja.”
“eh kok jadi sok bijak banget aku yah?”
“nggak apa-apa kok, justru aku berterima kasih sama kamu udah buatku mengerti arti sebuah senyuman.”
“senyuman memang sederhana, tapi jikalau memang kita tak bisa melakukan apa-apa terhadap orang lain tapi semoga senyuman kita bisa membuat orang lain bahagia, bahagia itu pun tak selalu mahal hanya saja bagaimana cara kita melakukannya.”
“kamu buatku mengerti akan hal yang selama ini tak pernah ku pikirkan.”
“aku hanyalah manusia yang sangat biasa, bahkan tak sedikit yang membenciku mungkin.”
“itu salah Tya, kamu akan banyak di sukai karna sifatmu dan aku pun begitu, baru saja aku mengenalmu tapi sudah memberiku sebuah pengetahuan yang tak ku dapat di sekolah ini.”
“makasih, tersenyumlah untuk semua orang.”
“aku akan berusaha.”
Senyuman yang memang jarang terlihat dari sosok Vendi kini terlihat lagi tepat di depan mataku. Ingin sekali mengabadikannya namun aku pun hanya bisa merasakan kenyamanan itu, mengabadikan dalam sebuah catatanku nanti dan dalam hati ini.
Aku dan Vendi sampai di kelas, ternyata sudah ada Laras dan Ando yang sedang duduk di bangku nya mungkin telah menghabiskan makanannya.
“lama amat kalian nyampenya?” tanya Laras
“masa sih?” jawabku
“iya lha, orang aku sama Ando aja udah ngabisin nih makanan, kalian baru nongol,” jelasnya
“tadi dengerin Tya ceramah,” ujar Vendi
“iih kamu tuh ya rese,” kataku kesel mendengarnya
“hehe bercanda kali,” jelas Vendi
“ciyeee ciyeee makin deket aja kalian,” ledek Laras
“hayoo jangan-jangan tadi pada PDKT nih,” tebak Ando ngasal
“apaan coba,” gerutu ku
“iya nih kalian ngaco aja, kita tuh cuma bahas untuk tugas kita aja kok,”lanjut Vendi
“dengerin tuh,” kesalku
“biasa aja kali Tya yang baik hati dan cantik,” kata Laras
Walaupun mulutku menyangkal akan perkataan Laras dan Ando namun hati ini masih mengharapkan dia, Vendi yang menjadi kebahagiaan kecil untuk ku. Karena kebahagiaan besarku nanti ketika dapat membahagiakan orang tua dan dapat berguna untuk banyak orang.
Seusai jam sekolah habis, aku dan Laras pulang namun masih dengan jalan masing-masing. Laras yang mengendarai motornya sedangkan aku masih di jemput Kak Fino karena aku masih belum bisa mengendarai motor.
“Tya beneran nih nggak mau bareng aku?” tawar Laras
“eh nggak usah Ras, lagian bentar lagi paling Kak Fino jemput,” jawabku
“ya udah, aku pulang duluan yak,” ucapnya meninggalkanku
“iya, hati-hati,” ujar ku dengan suara lebih keras
Sepi menunggu, malas rasanya menunggu Kak Fino yang entah kapan datang. Namun aku tetap yakin kalau Kak Fino pasti jemput aku. Keyakinan itu ada karena aku pun percaya terhadap Kak Fino.
Setengah jam sudah lewat, satu jam berlalu masih saja tak kunjung datang, tiba-tiba HP ku berbunyi. Ku buka layar HP ku dan ternyata satu pesan dari Kak Fino isinya. “maaf De, Kakak nggak bisa jemput hari ini soalnya masih banyak tugas sekolah.”
“kenapa nggak dari tadi coba ngabarinnya,” gerutu ku melihat isi pesan dari Kak Fino. Benar-benar tak ingin pulang sendirian, kalau tahu kayak gini pastinya aku tadi akan lebih memilih tawaran dari Laras namun apa boleh buat semua sudah berlalu.
“tin .. tin,”suara klakson motor berbunyi
“ngagetin aja deh,” kataku sambil menengok ke belakang
Suara klakson itu berasal dari motor Vendi, aku pun tak tahu kenapa dia masih di sekolah padahal hari sudah mulai petang.
“hehe sorry sorry, kamu ngapain masih di sekolah?” tanya Vendi
“lha kamu ngapain masih di sekolah?”tanyaku balik
“lho kok malah nanya balik sih?” tanyanya lagi
“hehe aku habis nunggu Kak Fino tapi ternyata nggak bisa jemput aku,” jawabku
“ooh, ya udah ikut aku aja yuk,” tawarnya
Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin mengeluarkan rasa senang ku hari ini. Bisa lebih dekat dengannya dan ini justru di ajakin pulang bareng sama Vendi yang selama ini hanyalah bayanganku saja.
“emang nggak ngerepotin?”tanyaku
“enggak lha, tenang aja lagian kamu mau pulang sendirian?”
“enggak juga sih, tapi ini beneran?”
“enggak bercanda.”
Mukaku kembali kusut mendengar kata itu namun..
“beneran lha masa bohong sih.” lanjutnya
“aku kira kamu jawabnya bener.”
“haha takut ya di tinggal.”
“hehe, emang nggak ada yang marah?”
“udah naik aja dulu lanjut nanyanya nanti aja sambil jalan, kalau nggak jalan-jalan kapan nyampainya lagian pertanyaanmu kayak wartawan tau nggak.”
“iya kan jaga-jaga kalau nanti ada yang marah.” kataku sambil menaiki motornya Vendi.
“tenang aja, masih jomblo nih.” ucapnya dengan menjalankan mesin motornya.
“ooh tapi makasih ya tebengannya.”
“nyantai aja kali kan udah temen.”
Mendengar kata temen itu seakan aku mulai sadar bahwa Vendi adalah orang yang patut untuk aku kagumi dan sayangi selama ini walaupun dari jauh.
“oh iya tadi kamu belum jawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?”
“kamu kenapa tadi masih di sekolah?”
“aku ada latihan band tadi.”
“ciyeeee yang jadi pemain gitar hebat.”
“biasa aja sih. Tapi kok dulu aku jarang lihat kamu yah?”
“iya lha kan kamu banyak di kerumunin cewek, lagian aku bukan cewek yang popular so pasti kamu nggak kenal aku.”
“jangan merendahkan dong, serasa di langit nih akunya.”
“haha, mungkin sering lihat tapi emang karna kita belum kenal jadi nggak merhatiin deh.”
“mungkin juga sih.”
“Padahal aku sudah melihatmu jauh saat kamu belum mengenalmu, aku sudah paham banyak tentangmu tapi kamu aja yang belum mengenalku.”batinku
Aku sudah berada di depan rumahku, bebarengan dengan Kak Fino yang baru saja tiba di rumah.
“siapa tuh Ya?” tanya Kak Fino
“aku Vendi Kak temennya Tya,” Ucap Vendi memperkenalkan dirinya
“temen apa temen tuh Ya,” ledek Kak Fino
“apaan sih Kak,” ujarku dengan kesal
“ya udah aku pulang dulu yah Ya, Kak Fino,” pamitnya
“makasih ya Ven udah anterin aku pulang,” kataku
“iya makasih bro udah anterin ade aku balik,” ucap Kak Fino
“sama-sama Kak, iya Ya tenang aja,” katanya
“hati-hati ya,” pekik ku
Ku langkahkan kaki ku ke dalam rumah tanpa menghiraukan ledekan Kak Fino. Aku masih kesal dengan Kak Fino yang tidak bisa menjemput aku. Walaupun memang ada alasan tapi setidaknya kasih tahu dari awal, tapi sebenarnya berkat Kak Fino juga aku bisa bareng dengan Vendi.
Kak Fino sadar akan kekesalanku karena dia sudah mengenal dekat dengan. Mencoba meminta maaf padaku dengan langsung bicara ke kamarku namun aku masih saja mengacuhkannya. Tak ingin ku menghadap Kak Fino, kualihkan dengan mendengarkan music.
Aku sebenarnya tak enak hati mengacuhkan Kak Fino tapi untuk saat ini aku ingin sendiri, tak ingin ada yang menggangguku. Kak Fino pun perlahan pergi meninggalkan kamarku dengan menngucapkan kata maaf untuk ku. Sungguh Kak Fino yang sabar menghadapi Adik sepertiku ini.
Setelah Kak Fino meninggalkan kamarku, mulailah ide ku untuk membuat sebuah puisi. Tak ku pikirkan bagus atau tidaknya tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin demi tanggung jawab. Karna selain nilai yang aku dan teman-teman inginkan, kami akan berusaha untuk bertanggung jawab dalam kelompok ini.
Sebuah judul terlintas dalam pikirkan, ku memikirkan judul dengan sangat sederhana dan itu pun mengarah terhadap Vendi, sosok yang aku kagumi selama ini. KAMU sebuah judul untuk karya ku nanti. Memulai menulis satu persatu kata, tiba-tiba terdengar nada dering dari HP ku. Ku berhentikan aktivitas menulis ku lalu melihat ke layar HP ku, terdapat pesan masuk dan ku buka langsung.
Via SMS
? : assalamu’alaikum
Aku : wa’alaikumsalam, maaf ini nomornya siapa?
? : aku Vendi
Aku : oh iya, ada apa Ven?
Vendi : aku mau nanya tentang tugas kelompok kita
Aku : aku lagi ngerjain nih, baru sedikit
Vendi : cepet amat bikinnya
Aku : hehe, lagi ada mood nih 
Vendi : ya udah, besok aku ke rumah mu yah?
Aku : mau ngapain?
Vendi : nggak boleh yah?
Aku : eh bukannya gitu, boleh kok silahkan aja
Vendi : haha, aku mau belajar kelompok aja sama kamu bahas yang ini
Aku : ooh ok deh
Vendi : iya udah dulu yak, jangan lupa makan dan sholatnya 
Aku : iya, kamu juga
Vendi : sip (y)
Hati ku mulai terhibur oleh sms Vendi, walaupun hanya menanyakan tugas namun aku senang telah mengenalnya dengan dekat. Sebuah kado teristimewa ketika aku memang sudah tak terlalu mengharapkan dia. Aku tahu bahwa dia adalah sosok yang sempurna untuk perempuan lainnya, aku pun tak ingin berharap lebih menjadi pendampingnya. Namun aku tetap berharap bisa menjadi teman dekat. Dekat untuk sebuah persahabatan dan persaudaraan hingga kelak.
Senja berganti menjadi malam, ku ceritakan hari ini untuk sebuah catatan di dalam file ku. Sebuah catatan yang sederhana untuk ku sendiri tanpa ada yang tahu. Mungkin Laras sudah tahu dengan cita-citaku namun isi dari catatanku masih sangat rahasia karena menurutku mereka akan ku beritahu nanti saat aku sudah bisa membuktikan yang terbaik.
Hari itu berlalu, tiba saatnya pagi menjulang. Ku melakukan aktivitas biasa untuk sarapan, dan pamit dengan ke dua orang tuaku. Namun apa kabar dengan Kak Fino? Dia telah menungguku di halaman rumahku dan sudah bersiap-siap untuk pergi.
“pagi adikku sayang,” sapa Kak Fino.
“pagi,” ketusku.
“ketus amat De, nanti Vendi kabur lho,” ledeknya sambil terkekeh melihatku yang tiba-tiba salting.
“udah deh Kak nggak usah ngeledek gitu.”
“ciyeee salting nih Ade Kakak.”
“ayo berangkat udah siang.”
“lucu deh liat kamu salting gitu kan jarang-jarang kamu suka sama cowok,” ujar Kak Fino sambil mengendarai motornya.
Masih berlanjut untuk seorang Kak Fino meledek ku di jalan menuju sekolah.
“masih marah nih sama Kakak?” tanyanya melihat ku hanya diam .
“enggak.”
“masak? Kok sama Kakaknya sendiri jutek amat si neng.”
“tahu lha, Kakak nyebelin.”
“maaf De, kemarin tuh bener-bener Kakak nggak bisa jemput kamu karena emang ada tugas kampus mendadak.”
“kenapa nggak ngabarin dari awal, kan jadi nunggu lama-lama.”
“HP Kakak di silent dan baru buka saat istirahat.”
“iya deh.”
“jangan cemberut gitu deh.”
“enggak nih .”
“nah gitu kan cantik di lihatnya.”
“udah deh nggak usah ngeledek lagi.”
“haha malu nih Ade Kakak, tapi berkat kakak kemarin kamu di anterin tuh sama cowok dan mungkin kamu suka yak sama dia?”
“ih Kakak mah bahasnya itu mulu deh.”
“ceritain dong sama kakak.”
“kapan-kapan deh, udah nyampe juga.”
“janji lho, awas kalau nggak cerita.”
“iya iya, Kak pamit sekolah dulu yak, assalamu’alaikum.”
“wa’alaikumsalam, hati-hati ya De.”
“ok, Kakak juga hati-hati jangan kebut-kebutan.”
“siap.”
Emosi ku sudah bisa reda, aku pun sudah berbaikan dengan Kak Fino. Melihat Kak Fino senyum itu kebahagiaan ku juga, tapi aku yang terkadang sangat emosional dengannya. Mengerti adalah cara Kak Fino menyayangiku. Walaupun sekeras apapun aku tapi dia akan tetap mengerti ku dan sabar mengahadapiku. Salut dengan sikap Kak Fino yang dewasa menghadapiku dan mendidik ku. Tak terpaut umur jauh tapi sudah dapat saling mengerti.
Sebelum terdengar bel, aku bertemu dengan Laras di lorong sekolah. Belum sampai di kelas terlihat sosok Vendi berada di depan kelas sambil membaca buku.
“pagi semua,” sapa Vendi.
“tumben nyapa, biasanya aja cueknya minta ampun,” ucap Laras.
“hehe, kan belajar,” katanya.
“belajar darimana?” tanya Laras penasaran melihat Vendi berubah seperti itu.
“tuh dari temen mu,” jawabnya sambil melihat ke aku.
“ooh jadi Tya yang ngajarin, bagus deh Ya, jadi banyak ibadah yang dia lakuin :p,” ucapnya terhadapku sambil masuk ke dalam kelas meninggalkanku dengan Vendi.
“temen mu itu yak aneh langsung pergi aja tuh setelah ngejek aku,” kata Vendi.
“hehe, maklumin aja, emang bener si kata Laras,” dukung ku dengan kata-kata Laras.
“emang segitunya yak?” tanyanya.
“mungkin,” jawabku
“udah yuk masuk ke kelas aja sebentar lagi bel nya bunyi,” lanjutku mengajak Vendi ke dalam kelas.
Terdengar langkah seorang guru yang tak lain datang ke dalam kelasku. Untung saja aku dan Vendi sudah masuk ke dalam kelas, coba kalau tadi masih di luar kelas pasti akan ada marahan yang ku dengar. Mengawali kegiatan belajar mengajar dengan berdoa, di lanjutkan dengan mendengarkan materi yang di berikan. Full teori yang ku dengarkan. Sedikit bosan mendengarkan hingga ku goreskan pensil ku ke lembar kosong.
Pandangan ku masih memperhatikan guru namun pikiranku sudah merasakan bosan dan mulai ku tuliskan satu per satu kata untuk menggambarkan perasaan ku saat ini. Tanpa ku sadari terlukis sebuah wajah yang tak asing lagi untukku. Wajah Vendi yang ku lukiskan dengan sebuah jejak yang selalu membekas di hatiku ini. Akhirnya cukup lama lukisan itu ku buat begitu pun pelajaran telah selesai.
Kebosanan ku terbayar oleh lamunan ku namun masih tak terpikirkan masih saja ada Vendi di pikiranku. Kejadian ini di ketahui oleh Laras yang sedari tadi melihatku sedang menggoreskan sebuah pensil tersebut. Sebuah wajah yang sangat tampan namun tidak dapat setampan wajah aslinya ku gambarkan di ikuti sebuah kata “jejak setengah lingkaranmu sangat indah bagiku”.
“ekhem ekhem,” suara Laras mulai terdengar dengan batuk yang di sengaja.
“batuk neng?” ledekku.
“hehe, masih saja melamun karna dia, bukannya udah deket yak?” tanyanya.
“kan temen Ras,” jawabku.
“temen kok sampai di gambar mukanyan?”
“aku juga nggak nyadar hal itu Ras.”
“karna hati dan pikiranmu masih tertuju pada Vendi.”
“hussst udah deh nggak usah bahas hal itu lagi.”
“nggak apa-apa kok, kan emang semua yang kamu rasakan akan menuntunmu.”
“menuntun kemana?”
“ke hati yang di tuju.”
“yeee puitis amat.”
“belajar, kan kamu pun begitu.”
“hehe, iya juga sih.”
Entah apa yang sebenarnya ku rasakan kini, tapi yang jelas rasaku terhadap Vendi masih sama seperti dulu. Perasaan untuk pertama kalinya ku rasakan itu hanya melihat senyumnya. Senyum yang sangat di tunggu banyak orang, termasuk aku. Aku yang sangat ingin melihatnya selalu tersenyum walaupun bukan bersama ku. Mengenal dia dengan sederhana itu cukup membuatku bahagia, seiring berjalannya waktu itu semua menjadi kenyataan ketika ku yakin bahwa bayangan semu itu hanyalah sebuah angan, mimpi, dan hayalan. Benar-benar sebuah angan yang sulit untuk ku capai, tapi memang ketika Tuhan sudah menggariskan ku tuk mengenalnya semua itu akan terjadi.